Tagar 'Presiden terburuk dalam sejarah' trending di Twitter hari ini, Rabu (21/7/2021).
Sejumlah netizen mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap perkembangan sosial terkini berkaitan dengan penanganan pemerintah terhadap pandemi Covid-19.
Tagar tersebut muncul dan dibuat oleh warganet dalam mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap perkembangan terkini.
Tagar tersebut sebagai ungkapan rasa kecewa terhadap pemerintah terkait penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.
Seperti diketahui, dengan semakin melonjaknya kasus positif Covid-19, pemerintah membuat aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat mulai 3 hingga 20 Juli 2021.
Kemudian, pada Selasa (20/7/2021), Presiden Joko Widodo menyampaikan jika PPKM Darurat diperpanjang hingga (25/7/2021).
Hingga berita ini diturkan, tagar #PresidenTerburukDalamSejarah sudah mendapatkan lebih dari 16 ribu twit.
Sebelumnya, Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyajikan hasil survei terbaru terkait dengan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.
Adapun satu di antara hasil survei yang dilakukan LSI itu yakni menyoroti soal kinerja Presiden RI Joko Widodo dalam menangani pandemi Covid-19.
Dikutip dari Tribunnews.com, saat dikonfirmasi pada Minggu (18/7/2021), Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan memberikan jawaban.
Djayadi mengatakan, mayoritas masyarakat puas terhadap kinerja Jokowi dalam menangani wabah Covid-19.
Akan tetapi, kepuasan tersebut mengalami penurunan dalam empat bulan terakhir.
"Mayoritas puas terhadap kinerja Presiden dalam menangani wabah COVID-19. Namun, kepuasan tersebut mengalami penurunan dalam enam bulan terakhir," kata Djayadi.
Pada September 2020, tingkat kepercayaan masyarakat berada pada angka 60,6 persen.
Kemudian turun pada November 2020, hanya menjadi 60 persen.
Angka tersebut kembali turun pada Februari 2021 yakni menjadi 56,5 persen dan kembali menurun secara tajam pada Juni 2021 menjadi 43 persen.
"Tingkat kepercayaan pada kemampuan presiden dalam menangani COVID-19 cenderung turun dalam empat bulan terakhir," tukas Djayadi.
Sebagai informasi, survei ini sendiri dilakukan pada 20 hingga 25 Juni 2021 dengan melibatkan sekitar 1.200 responden.
Sampel ini berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.
